Islam & Kristen Setuju - Allah Tidak Beranak
- Rincian
- Dibuat pada Senin, 30 Januari 2012 00:00
Saya menikah bulan Juli, tahun 1966. Sebagai pasang suami-isteri baru, kami sangat menginginkan seorang anak. Memang kerinduan berkeluarga tertanam dalam hati setiap orang. Oleh karena itu saya sangat senang ketika mendapat berita bahwa isteri saya hamil. Kami berdua menyiapkan semua hal yang dibutuhkan bayi kami. Bila tiba waktunya melahirkan, kami akan tinggal di rumah teman di kota lain yang dekat dengan rumah sakit.
Syukurlah, semua jalan dengan baik. Pada akhir bulan September, tahun 1967 anak sulung kami lahir. Saya sangat gembira Allah sudi memberikan seorang anak laki-laki yang sehat. Hingga sekarang anak sulung kami dan saya bekerja-sama mengelola bisnis keluarga.
Hanya Manusia Beranak, Bukan Allah
Memiliki seorang anak biologis merupakan berkat bagi manusia. Ini satu perbedaan antara manusia dengan Allah. Tidak ada satu ayatpun dalam Kitab Suci yang menjelaskan bahwa Allah pernah berhubungan dengan manusia secara biologis hingga melahirkan seorang anak. Itu tidak pernah jadi!
Pengaruh Bidah Agama Pada Nabi Islam
Tidak heran bila umat Kristen bertanya, mengapa Al-Quran menyinggung konsep bahwa Allah tidak mempunyai anak. Perhatikanlah Qs 4:171: “. . . janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’. . . . Sesungguhnya . . . Maha Suci Allah dari mempunyai anak . . .”
Sepertinya nabi umat Islam memperhatikan ajaran bidah agama yang mengajarkan bahwa Allah beranak. Mestinya begitu! Karena tidak satu pun ayat dalam Alkitab yang mengatakan Allah berhubungan dengan Maryam secara biologis sehingga lahirlah Isa Al-Masih. Itulah sebabnya mengapa orang Kristen menganggap isi Qs 4:171 aneh. Siapakah yang pernah mengatakan Allah beranak?
Mengoreksi Salah Paham Umat Islam
Bagaimana saudara akan bertindak bila seseorang menuduh, orang Kristen percaya Allah beranak? Saudara dapat mengoreksi orang itu dengan menekankan, “Orang Kristen dan Alkitab sama sekali tidak mengajarkan hal aneh seperti itu.”
Penjelmaan dan Kedatangan Kalimat Allah Ke Dunia
Namun umat Kristen yakin Kalimat Allah menjelma menjadi manusia. Kalimat Allah dikenal sebagai Isa Al-Masih. “Pada mulanya adalah Firman [Kalimat]; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah . . . . Firman itu menjadi manusia, dan diam di antara kita . . . “ (Injil, Rasul Besar Yohanes 1:1, 14).
Dan mengapa Kalimat Allah datang? Tujuan satu-satunya untuk menyediakan Jalan Keselamatan bagi kita.
Pengarang - Jason Gilead
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.






Comments
Malaikat masih bisa jatuh ke dalam dosa, contohnya Iblis yang adalah Mantan Malaikat (Lucifer)yang paling tinggi tingkatannya
Silakan orang lain menganggap hal itu sesat, di Al-Quran sendiri menulis bahwa Isa Al-Masih (Yesus) yang akan menjadi Hakim pada hari kiamad dan bukan nabi lainnya.
Saya bertanya kepada kita semua, apakah manusia mempunyai hak/kewenangan untuk menghakimi dosa manusia lainnya?
Silakan berpikir dengan logika yang sehat dan benar.
Terimakasih.
Baik Alkitab maupun Al-Quran memberi kesaksian bahwa Isa Al-Masih akan datang kembali di akhir zaman untuk menjadi Hakim.
Alkitab sangat jelas mengatakan bahwa setiap orang akan dihakimi. Baik orang yang menerima Isa Al-Masih maupun orang yang menolak-Nya, suatu hari akan berdiri di hadapan Isa Al-Masih untuk dihakimi.
Semua orang yang menolak Isa Al-Masih akan dihakimi berdasarkan perbuatan-perbu atan mereka. Alkitab mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang “menimbun murka atas dirimu sendiri “ akan dihukum menurut perbuatannya.
Bagi orang percaya dalam nama-Nya, penghakiman bukanlah untuk menentukan apakah dilemparkan ke dalam lautan api atau tidak. Karena hal itu sudah diselesaikan saat kita percaya pada Isa Al-Masih sebagai Juruselamat. Kita akan dihakimi untuk memperoleh pahala sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan.
~
SL
Kejadian 6:1-4,
“Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perem puan itu, siapa saja yang disukai mereka. Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perem puan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.”
Bukankah ini bukti bahwa Alkitab menyatakan Allah itu punya anak?
Istilah “anak-anak Allah” dalam Taurat Kitab Kejadian 6:1-4, dipakai sebagai rujukan untuk para malaikat yang telah jatuh dalam dosa. Dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama istilah “anak-anak Allah” selalu menunjuk pada para malaikat (Kitab Nabi Ayub 1:6; 2:1; 38:7).
Walaupun para malaikat adalah makhluk rohani yang tidak berjenis kelamin, namun malaikat dapat menampakkan diri dalam wujud manusia, dalam bentuk jasmani (Injil, Rasul Markus 16:5). Bahkan orang-orang Sodom dan Gomora ingin “memakai” kedua malaikat yang bersama dengan Lot (taurat Kitab Kejadian 19:1-5).
Jadi dalam Taurat Kitab Kejadian 6:1-4, istilah “anak-anak” Allah bukan berarti Allah mempunyai isteri lalu punya anak, melainkan istilah tersebut menunjuk pada para malaikat yang telah jatuh.
~
SL
RSS feed for comments to this post