Mengenaskan namun mengharukan. Hewan yang tidak bersalah, menjadi korban hari raya.

Hal ini adalah salah satu bentuk ketakwaan ibadah Muslim. Dimana setiap tahun secara konsisten melakukan qurban hewan sampai zaman modern.
Namun tahukah Anda awal mula qurban? Ada sejarah menarik dari perayaan ini.
Mari kita dalami sejarahnya. Agar kita bisa memahaminya dan dapat memperoleh ridha-Nya.
Ibadah Qurban Umat Islam
Switas Consultancy memperkirakan sekitar 50 juta hewan disembelih saat Idul Adha. Hal ini hanya berasal dari negara-negara mayoritas Muslim saja. Beberapa pihak lain memperkirakan angkanya bisa hampir mencapai 100 juta hewan.
Di Indonesia sendiri ada data dari Kementerian Agama dan Badan Kesejahteraan Masjid (BKM). Pada tahun 2025, total 1.856.962 ekor hewan disembelih.
Hal ini karena ibadah quran sangat penting. Merupakan ibadah wajib umat Islam.
Dalilnya jelas, “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (Qs 108:2).
Ibadah qurban juga memiliki banyak manfaat. Secara ibadah, umat berharap mendapat ridha Allah dan ampunan dosa (Sunan Tirmidzi 1413).
Selain itu secara masyarakat, membantu mewujudkan keadilan sosial. Karena memberi kepada orang yang membutuhkan.
Jika demikian penting, tahukah Anda awal mula qurban? Mari kita lihat uraiannya.
Awal Mula Qurban Secara Agama
Ajaran agama menyatakan awal mula qurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim. Yaitu saat Allah memerintahkannya untuk mempersembahkan puteranya.
Nabi Ibrahim rela taat. Kemudaan Allah menggantinya dengan hewan sembelihan besar. Hal ini menjadi teladan umat Islam.
“‘Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?’ beliau bersabda: ‘Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim.’ . . . ‘Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan’” (Sunan Ibnu Majah 3118).
Dalam hal ini ada fakta menarik. Walau ada dalil awal mula qurban dari Nabi Ibrahim, namun pada mulanya tidak wajib bagi umat Islam.
Awal Mula Qurban Bagi Umat Islam
Tidak ada syariat ibadah qurban saat Nabi Islam di Makkah. Nabi Islam tidak melakukannya. Dan tentu saja pengikutnya juga tidak.

Hal ini terlihat dari riwayat-riwayat Hadis yang mulai menceritakannya. Sejak saat itu umat Islam mulai rutin mempraktekan ibadah qurban.
Jika demikian apa yang menyebabkan perubahan ini? Mari kita perdalam.
Awal Mula Qurban – Sejarahnya
Menurut para sejarawan, awal mula qurban tidak ada di Makkah karena kaum Islam dalam kondisi tertindas. Sehingga belum memiliki sistem sosial yang mapan.
Namun saat di Madinah keadaan berbeda. Umat Islam sudah berkembang dan memiliki komunitas yang kuat.
Saat itulah umat Islam berinteraksi dengan berbagai budaya lain. Baik banyak orang dari politeisme, maupun kaum Yahudi dan Nasrani.
Ritual penyembelihan hewan sudah lazim dalam masyarakat Arab sebelum Islam. Banyak orang dalam berbagai budaya telah melakukannya. Demikian juga orang Yahudi di Medinah melakukannya.
Sehingga Nabi Islam mulai mempraktekkan qurban. Tujuannya, pada satu sisi menjadi daya tarik masyarakat setempat. Karena menghubungkan dengan garis kenabian yang lebih tua.
Dan pada sisi lainnya menjadi pembeda. Karena memiliki ritual dan peraturan tersendiri.
Selain itu qurban sangat efektif membangun komunitas. Umat Islam saat itu terdiri dari banyak pendatang dan kelompok miskin. Ibadah qurban menciptakan distribusi dagang dan solidaritas sosial.
Jika demikian awal mula qurban, sekarang mari kita perdalam maknanya. Agar kita bisa mendapat faedahnya untuk kehidupan ini.
Awal Mula Qurban – Menyatakan Maknanya
Apapun sejarah awal mula qurban umat Islam, tetap dalilnya merujuk pada Nabi Ibrahim. Pengorbanan Nabi Ibrahim yang menjadi dasar ibadah.
Kisah Nabi Ibrahim sendiri sangat dalam. Karena kita mengetahui pada akhirnya bukan anaknya yang disembelih. Melainkan Allah menggantinya dengan hewan sembelihan (Qs 37:107).
Ini berarti awal mula qurban menyatakan ada qurban pengganti. Allah yang menyediakan qurban yang sesungguhnya.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya . . .” (Qs 22:37).
Ayat Al-Quran menyatakan butuh ketakwaan kita. Namun ketakwaan kita tidak sempurna. Kita sering khilaf dan penuh dosa.
Bahkan Nabi Ibrahim sendiri juga terbatas. Sebagai teladan awal mula qurban, ia masih gelisah. Agama mengajarkan Nabi Ibrahim masih berdoa dengan takut akan keselamatan akhiratnya (Qs 26:82-83).
Demikianlah awal mula qurban menyatakan maknanya bagi kita. Bahwa intinya adalah Allah yang menyediakan qurban pengganti untuk manusia.
Gambaran Qurban yang Menyelamatkan
Allah menyediakan qurban pengganti dengan Dia sendiri yang berqurban. Dia yang datang untuk menyelamatkan manusia.
Hal ini mungkin terasa aneh bagi kita. Banyak pertanyaan mengapa Allah perlu melakukan hal ini.
Coba bayangkan ada seorang hakim adil namun penuh kasih. Ia selalu menghukum kejahatan. Tapi ia juga mau menolong orang yang membutuhkan.
Satu kali ada seorang miskin yang kedapatan mencuri. Ia melakukannya karena anak-anaknya lapar.
Secara peraturan hakim ini wajib memberikan hukuman. Karena itu ia menjatuhkan sanksi denda kepada orang tersebut.
Namun ia tahu orang ini tidak akan mampu membayarnya. Karena itu sang hakimlah yang membayarkan dendanya. Inilah gambaran “qurban pengganti.”
Dengan demikian tuntutan hukum keadilan terpenuhi. Dan orang tersebut bisa mendapatkan keselamatan.
Qurban Allah untuk Manusia
Qurban Allah adalah melalui Dia sendiri yang menjelma menjadi manusia. Inilah Isa Al-Masih yang lahir dari perawan.
Allah menjadi manusia untuk mengajarkan kebenaran Allah. Ia juga menjadi qurban pengganti di kayu salib. Tujuannya untuk menebus manusia dari hukuman dosa.

“. . . [Qurban Nabi Ibrahim adalah] bayangan dari hal-hal baik yang akan datang . . . karena memang mustahil darah lembu-lembu jantan dan kambing-kambing jantan dapat menghapuskan dosa manusia . . . Oleh kehendak-Nya itulah kita telah disucikan melalui persembahan tubuh Al-Masih, sekali untuk selama-lamanya . . . Jika pengampunan itu sudah sedemikian rupa, maka tidak perlu lagi persembahan karena dosa” (Injil, Surat Ibrani 10:1, 4, 10, 18).
Jadi Isa Al-Masih adalah Hakim Adil yang penuh kasih. Ia menegakkan kebenaran. Namun Ia juga menjadi qurban pengganti yang menyelamatkan.
“Lagi pula, yang dibawa-Nya [Isa Al-Masih] bukanlah darah kambing-kambing jantan dan darah anak-anak lembu, melainkan darah-Nya sendiri . . . [untuk] mendapatkan penebusan yang kekal . . . darah Al-Masih . . . akan menyucikan batiniah kita dari semua perbuatan yang sia-sia supaya kita dapat beribadah kepada Allah, Tuhan yang hidup itu” (Injil, Surat Ibrani 9:12,14).
Qurban Allah yang menyelamatkan
Awal mula qurban menyatakan ibadah manusia terbatas. Kita bisa berusaha, namun tidak akan mampu memenuhi semua tuntutan keadilan Allah.
Karena itu Allah menyediakan jalan selamat. Yaitu dengan qurban pengganti, Isa Al-Masih. Dialah Allah dalam wujud manusia.
Kita akan mendapat pertolongan-Nya. Caranya dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
“Allah mengaruniakan kepada kita hidup yang kekal. Caranya dengan mengimani Isa Al-Masih” (Injil, Surat 1 Yahya 5:11,13, parafrasa).
Maukah Anda mendapatkan keselamatan Allah? Mari mengimani Isa Al-Masih dan menjadi pengikut-Nya sekarang.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Tujuan Mukmin Berkurban di Idul Adha: Mendapat Ampunan Allah?
- Inilah Ibadah Yang Pasti Diterima Allah! Penasaran?
- Pengorbanan Nabi Ibrahim adalah Petunjuk pada Kurban Mulia
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Bagaimana pendapat Saudara mengenai asal mula qurban dalam hubungannya dengan interaksi masyarakat di Madinah?
- Bagaimana pendapat Saudara bahwa bahkan Nabi Ibrahim mendapatkan qurban pengganti?
- Allah menyediakan qurban pengganti, yaitu Isa Al-Masih. Bagaimana pendapat Saudara mengenai hal ini?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”


PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .