
Ini adalah perkataan Basir kepada Aditya. Mereka berdua adalah anak pesantren. Mereka sering berdiskusi dalam hal keagamaan.
Aditya menanggapi dengan santai. “Tenang saja, kita kan bisa beramal. Ada amalan yang menghapus dosa.”
“Saya tidak setuju,” kata Basir. Tetap saja banyak yang perlu kita takuti.
Mari kita simak percakapan mereka. Benarkah banyak amalan yang menghapus dosa, atau sewajarnya takut neraka? Dan kita akan lihat solusinya.
Manusia dan Dosanya
“Saya sering merenung. Saya mencari solusi, bagaimana kita bisa mengatasi dosa kita.” Kata Basir.
“Kita, manusia banyak melakukan kesalahan. Saya takut hukuman Allah nantinya.”
“Perkataan kamu ada benarnya. Tapi kita kan sudah belajar agama. Kita bisa melakukan amalan yang menghapus dosa. Jadi jangan takut.” Respon Aditya.
“Amalan kan artinya semua perbuatan baik kita. Yaitu yang dilakukan dengan niat beribadah dan mendapat ridha-Nya. Jadi inilah jalan Allah bagi kita.”
Amalan yang Menghapus Dosa
Al-Quran sudah dengan jelas menyatakan hal ini. “. . . sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk . . .” (Qs 11:114).
“Sehingga akhirnya kita bisa mencapai surga (QS 43:72). Jadi yang kita perlu lakukan hanya berusaha dan tekun beramal baik,” tegas Aditya.
“Iya, saya paham. Saya juga mengetahui hal ini. Namun apakah kamu yakin amalan kamu cukup? Belum tentu dosa kita bisa tertutupi seluruhnya,” bantah Basir.
“Memangnya apa saja kekhawatiran kamu? Allah memberikan jalan. Itu saja sudah baik,” tanya Aditya.
Keterbatasan Amalan yang Menghapus Dosa
“Saya yakin kamu pernah mendengar bahwa manusia itu pasti melakukan banyak dosa. ‘Sekali-kali manusia tidak akan binasa hingga mereka banyak melakukan kesalahan . . .’ (Hadits Abu Daud 3783).”

“Terlebih lagi ada banyak faktor lainnya. Misalnya amalan kita belum tentu Allah terima. Dan kita tidak mengetahuinya sampai nanti di pengadilan akhirat.”
“Iya juga, betul! Saya pernah mendengar dalil ini,” kata Aditya. “‘. . . ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga berdasarkan yang nampak oleh manusia padahal dia dari penduduk neraka . . .’ (Shahih Bukhari 3885).”
“Sekarang saya jadi lebih paham pandangan kamu. Namun menurut saya tetap ada harapan.”
“Kita tetap bisa berusaha beramal. Yang penting kita menjauhi berbagai dosa besar.”
Masalah Dosa Besar
“Nah, hal ini juga menjadi perhatian saya,” kata Basir dengan lirih.
“Kita berdua paham. Memang kita perlu menjauhi dosa besar. Yaitu setiap perbuatan yang tegas dilarang dalam Al-Quran dan Hadis. Perbuatan yang disertai hukuman berat.”
“Ada dosa yang jelas seperti syirik, sihir, membunuh. Namun pada prakteknya ada banyak hal lain yang bisa termasuk dosa besar.”
“Misalnya ‘. . . sesungguhnya riya yang paling ringan pun sudah terhitung syirik . . .’ (Sunan Ibnu Majah 3979). Dan juga jika ada sedikit kesombongan, kita terhalang dari surga (Hadits Muslim No.133).”
“Pernahkah kamu riya? Juga mungkinkah masih ada sedikit kesombongan dalam hati kita?” Tanya Basir. “Karena itu saya ragu amalan yang menghapus dosa akan cukup.”
Saat itulah Aditya terdiam sesaat. Ia kemudian merespon, “jadi menurutmu, bagaimana kita menyikapinya?”
Pandangan Mukmin Terhadap Akhirat
Basir kemudian menceritakan sebuah kejadian yang pernah ia lihat. Ia berkata, “Saya dulu bertetangga dengan seorang bapak yang baik hati. Dia adalah tetangga di rumah orang tua saat saya kecil.”
“Bapak ini terkenal ramah dengan semua warga. Ia juga suka membantu orang yang membutuhkan.”
“Namun satu kali kami semua terkejut. Karena bapak ini ditangkap polisi. Rupanya dia kalau menyetir sering ugal-ugalan. Ia tidak sabar di jalan raya.”
“Pernah saat hujan deras, ia menabrak seorang ibu dan anak kecil. Sang ibu terluka parah. Namun sangat disayangkan sang anak meninggal dunia.”
“Polisi pasti memperhitungkan kelalaian bapak ini. Semua perbuatan baik dia dengan keluarga dan warga, tentu tidak bisa membatalkan pelanggaran tersebut.”
“Saya merasa seperti inilah keadaan manusia. Di hadapan Allah, ada banyak dosa kita. Dan amalan yang menghapus dosa tidak mampu menjadi solusinya.”
“Karena itu saya merasa frustrasi. Dalam kehidupan ini tidak ada kepastian. Akan tetap ada rasa takut neraka.”
“Saya mendengar penjelasan kamu. Jika demikian apakah solusinya?” tanya Aditya.
Inilah “Amalan” yang Menghapus Dosa
Pernahkah Anda terpikir seperti Basir dan Aditya? Kita manusia sulit mendapatkan jalan selamat. Tetap saja dosa kita jauh lebih banyak dari amalan yang kita lakukan.
Allah memahami keadaan manusia. Ia menyediakan pertolongan-Nya.
Allah menjelma menjadi manusia melalui pribadi Isa Al-Masih. Isa adalah perwujudan Ruh Allah dan Kalimatullah.
Isa Al-Masih mengajarkan kebenaran. Menyatakan bahwa Allah memang Maha Suci. Namun Ia juga Maha Kasih. Dalam kasih-Nya, Ia menyelamatkan.
Isa Al-Masih menyatakan kasih Allah yang besar. Yaitu dengan mati di kayu salib untuk menebus manusia dari dosa.
“. . . Allah menunjukkan kepada kita suatu jalan lain ke surga–bukan dengan ‘menjadi cukup baik’ dan dengan berusaha menaati hukum-hukum-Nya, melainkan . . . Allah mengatakan bahwa Ia akan menerima kita dan membebaskan kita, menyatakan kita ‘tidak bersalah’ bila kita percaya bahwa Yesus Kristus [Isa Al-Masih] menghapuskan dosa kita” (Injil, Surat Roma 3:21-22 FAYH).
Melalui-Nya, kita akan mendapat ampunan dosa. Jadi bukan amalan yang menghapus dosa. Melainkan kasih Allah melalui Isa. Inilah “amalan” atau perbuatan baik Allah yang menyelamatkan.
Manusia Terbatas, Allah Menyelamatkan
Tentu kita sebagai manusia perlu berbuat baik. Namun kita berbuat baik bukan untuk melakukan amalan yang menghapus dosa. Kita berbuat baik karena bersyukur dosa kita telah dihapuskan.

Inilah jalan lurus Allah. Melalui kasih-Nya, ia yang menyediakan jalan selamat.
Caranya dengan mengimani Isa Al-Masih sebagai jelmaan Kalimat Allah. Kemudian menjadi pengikut-Nya untuk mendalami ajaran-Nya.
Kita pasti akan mendapatkan surga Allah. Isa Al-Masih sendiri memberikan jaminan. “Aku memberikan hidup kekal kepada mereka dan mereka tidak akan binasa sampai selama-lamanya . . .” (Injil, Yahya 10:28).
Mari, menerima ampunan dosa dan jaminan surga. Mari, mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih!
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Benarkah Amalan Yang Dapat Menghapus Dosa di Hadapan Allah?” Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
- Bagaimana Nasib Islam Dan Kristen Yang Berdosa Sama?
- Apakah Perbuatan Baik Menyelamatkan?
- Dengan Amal Tidak Dapat Menjadi Benar!
- Ternyata Amalan Tidak Dapat Menyelamatkan Manusia Dari Hukuman Allah!
- Takut Amal Tidak Diterima Allah? Itu Ada Solusinya!
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Mengapa amalan yang diyakini sebagai cara memperoleh rahmat Allah tidak dapat menghapus dosa kita?
- Mengapa penyaliban Isa Al-Masih adalah satu-satunya cara menghapus dosa-dosa manusia?
- Isa Al-Masih berkuasa menghapus/mengampuni dosa dan menjamin hidup kekal di sorga. Apakah itu bukti keilahian-Nya?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Ditulis oleh: Sulaiman
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau WA/SMS ke: 0812-9530-4930



PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .