
Contohnya, banyak orang tidak sabar mengantri. Semua seakan terburu-buru dan saling serobot. Juga sedikit yang membantu jika ada yang mengalami kecelakaan.
Padahal banyak orang percaya Allah Maha Kasih. Ajaran agama menyatakan demikian.
“. . . sungguh, kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya melebihi kasih sayang perempuan itu terhadap anaknya” (Shahih Bukhari 5540).
Dalam keadaan ini bagaimana wujud kasih Allah kepada manusia? Penting kita memahaminya agar bisa mendapatkan dan mengamalkannya dalam kehidupan ini.
Kasih Allah kepada Manusia
Agama menyatakan bahwa Allah peduli kepada manusia. Hal ini tertulis dalam surat pertama, ayat pertama Al-Quran, tertulis Allah Maha Penyayang (Qs 1:1).
Selanjutnya banyak ulama menerangkan wujud kasih Allah kepada manusia. Hal ini terlihat dari beberapa hal.
- Dalil dalam Al-Quran dan Hadist bahwa Allah adalah pengasih.
- Dengan mengutus hamba-Nya para Rasul dan Nabi.
- Dengan memberikan rezeki bagi kehidupan.
- Dengan mengampuni dosa umat-Nya.
Sehubungan dengan hal ini ada salah satu kisah yang sering dipakai untuk menggambarkan kasih Allah. Tercatat dalam Shahih Muslim 4163.
Suatu hari ada seorang wanita pelacur, ia melihat ada seekor anjing menjulurkan lidah dekat sumur karena kehausan. Maka wanita ini mencopot sepatunya lalu memberikan anjing itu air.
Hadist ini ditutup dengan menarik, menyatakan bahwa Allah kemudian mengampuni dosa pelacur tersebut.
Kisah ini sangat mengejutkan karena dalam ajaran agama, pelacur adalah najis, anjing juga hewan najis. Namun Allah menyatakan kasih-Nya dengan menunjukan pengampunan dosa.
Semua hal ini terlihat sangat baik. Namun, jika demikian mengapa pada kenyataannya banyak umat takut azab Allah dan neraka?
Apakah Umat Bisa Yakin Akan Kasih Allah?

Sehingga setiap perbuatan pasti ada akibatnya. Setiap kesalahan ada hukumannya.
Mari kita lihat beberapa contoh wujud ketegasan dan hukuman Allah.
- Allah memang pengasih, namun juga menyiapkan hukuman bagi dosa manusia (Qs 7:156).
- Allah mengutus hamba-Nya namun menyediakan hukuman bagi mereka yang menolaknya.
“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan . . . Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa . . .” (Qs 6:48-49).
- Allah melapangkan namun juga menyempitkan rezeki.
Hal ini sesuai dengan keadaan orangnya, yaitu berkah bagi yang beriman dan hukuman bagi yang tidak taat (Qs 34:36-38).
Bahkan kita tidak selalu bisa yakin jika dapat rezeki karena mungkin saja itu istidraj (tipu daya) dari Allah (Qs 6:44, Musnad Ahmad 16673).
- Allah Maha Pengampun namun juga menyediakan azab pedih.
“. . . Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih” (Qs 15:49-50).
Hidup dalam Ketakutan dan Ketidakpastian
Keadaan ini yang membuat kita sebagai manusia sulit mendapatkan kepastian. Sebagai manusia kita pasti penuh dengan dosa. Karena sadar ada hukuman menanti, umat hidup dalam ketakutan.
Dalam semua wujud kasih Allah kepada manusia, juga terdapat sisi sebaliknya. Yaitu wujud ketegasan dan hukuman-Nya.
Kita tidak pernah bisa yakin akan kondisi kita. Bisa saja kita merasa telah berbuat baik, namun rupanya Allah melihat kesombongan hati kita dan menghukumnya.

Gambaran Wujud Kasih Allah kepada Manusia
Kita mulai melihatnya dari kisah seorang kaisar yang baik hati. Ada seorang kaisar di kerajaan besar, ia memimpin dengan bijaksana.
Dalam kerajaannya ada kebijakan untuk menolong rakyatnya. Juga ada peraturan untuk menjaga ketertiban.
Namun, satu kali ia mendengar ada daerah yang sangat miskin dan terlantar. Juga di sana banyak yang tidak tertib hukum. Wilayah ini terletak jauh dari pusat kerajaannya.
Kaisar ini menyatakan kepeduliannya. Ia bukan saja mengutus pegawainya, namun juga mau datang langsung ke sana.
Kaisar ini rela berkorban untuk “blusukan” ke wilayah jauh. Di sana ia bertemu langsung dan menolong rakyatnya.
Demikianlah wujud kasih Allah kepada manusia. Allah yang Maha Besar peduli dengan manusia.
Memang Ia mengirimkan para hamba-Nya. Namun Allah sendiri juga mau menjelma menjadi manusia untuk menunjukkan kasih-Nya. Dan terutama untuk menyelamatkan manusia.
Wujud Kasih Allah kepada Manusia
Inilah Isa Al-Masih! Isa adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Ia adalah pernyataan kasih Allah yang terutama kepada kita.
Memang secara wujud, Isa adalah manusia. Namun pada hakekatnya Ia adalah Allah. “Sebab di dalam Al-Masih secara jasmani berdiam keilahian yang sempurna” (Injil, Kolose 2:9).
Isa dalam wujud manusia mengajarkan ajaran kasih Allah. Ia memberikan panduan kehidupan yang benar. Melalui-Nya kita bisa belajar peduli dengan orang lain.
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri . . . kasihilah mereka yang menyeterui kamu dan doakanlah orang-orang yang menganiaya kamu” (Injil, Matius 22:39, 5:44).

Allah melakukan hal ini dengan pengorbanan Isa pada kayu salib. Yaitu untuk menanggung hukuman dari dosa manusia.
Kita bisa mendapatkan ampunan Allah dengan mengimani Isa Al-Masih. Maka semua dosa kita akan diampuni Allah.
“Di dalam Al-Masih, kita memperoleh tebusan . . . yaitu pengampunan atas pelanggaran-pelanggaran kita, sesuai dengan kekayaan anugerah-Nya” (Injil, Efesus 1:7).
Wujud Kasih Allah kepada Manusia Menjamin Surga!
Melalui Isa Al-Masih kita bisa mendapatkan jaminan surga. Melalui-Nya juga kita bisa belajar hidup baik dalam kasih.
Inilah kesempurnaan wujud kasih Allah kepada manusia, yaitu yang menuntun dan menyelamatkan. Kita tidak perlu lagi hidup takut akan azab Allah atau neraka.
Mari menerima kasih Allah ini dengan jalan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih!
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
- Mengapa Islam Dan Nasrani Mengajarkan Bahwa Kasih Penting?
- Bagaimana Ajaran Kasih Dalam Islam Dan Injil?
- Kebencian Ataukah Kasih Yang Umat Beragama Butuhkan?
Video:
- Muslimah Jawa Timur: Dulu Hati Terluka Sekarang Penuh Kasih
- Kisah Dokter Meninggal Untuk Menyelamatkan Orang Sakit
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Apa saja menurut Saudara wujud kasih Allah kepada manusia? Jelaskan jawabannya.
- Bagaimana pendapat Saudara bahwa selalu ada sisi lain dari pernyataan kasih Allah dalam ajaran agama, yaitu hukuman dan azab bagi yang tidak taat?
- Bagaimana pendapat Saudara bahwa Isa adalah pernyataan kasih Allah yang menyelamatkan manusia?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.


PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .