
Memang kita semua ingin mendapatkan surga, bukan? Agama mengajarkan taat beribadah. Salah satu kewajibannya adalah berpuasa. Bahkan ada berbagai cara menambah pahala di bulan Ramadhan.
Namun apakah semua ini cukup untuk membawa kita ke surga? Mari simak kisah pencarian Jamal dan cara dia bisa menghadap akhirat dengan damai sekarang.
Taat Puasa Ramadhan
Jamal lahir dari keluarga Muslim yang sangat ketat menjalankan agama. Sejak kecil ia telah diajar beribadah.
Tiap tahun, waktu yang paling ia rindukan adalah bulan Ramadhan. Ia sangat senang dengan suasana keluarga dan desanya saat menyambut puasa.
Jamal memang termotivasi melakukan ibadah. Ia hampir tidak pernah bolong puasa. Alasannya, karena ia mengetahui dalil puasa bisa menghapus dosa.
“. . . tentang bulan Ramadhan: ‘Barangsiapa yang menegakkannya karena iman kepada Allah . . . maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya’” (Shahih Bukhari 1869).
Inilah kerinduannya yang terdalam. Ia berharap mendapatkan jaminan surga Allah.
Menambah Pahala di Bulan Ramadhan
Masalahnya, Jamal sadar bahwa ia melakukan banyak dosa. Juga selama hidup ia pasti akan melakukan banyak kesalahan lainnya.
Karena itu, Jamal ingin menambah pahala di bulan Ramadhan. Tujuannya agar ia mendapat berkah dan membantunya untuk pasti masuk surga.
Jamal percaya Allah mencatat semua perbuatannya. Entah itu tindakan baik atau buruk. Namun untuk bulan Ramadhan, setiap amalan akan Allah lipat-gandakan pahalanya.
“Semua amalan bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku (Allah), dan Aku lah yang membalasnya . . .” (Shahih Bukhari 5472).
Jamal menjadi sangat rajin ibadah. Ia mengisi penuh hari-hari bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan ibadah.
Berbagai Amalan Tambahan Ramadhan
Ada banyak kegiatan saat puasa. Semua hal ini adalah bagian dari ibadah untuk menambah pahala di bulan Ramadhan.
Beberapa contoh kegiatan yang Jamal lakukan adalah:
- Memperbanyak sholat dan ibadah.
Jamal melakukan Qiamul-lail. Yaitu rangkaian ibadah malam di bulan Ramadhan. Ia mengerjakan banyak salat. Hal ini termasuk salat sunah seperti sholat taubat, tarawih, tahajjud, witir dan lain-lain. - Perbanyak membaca Al-Quran.
Dzikir dan tadarus adalah hal lain yang dipercaya menambah pahala. Jamal mengisi waktu dengan membaca Al-Quran bersama. Ia juga termotivasi lebih mengingat Allah dalam keseharian.
- Banyak bersedekah.
Bersedekah menjadi amalan yang menambah pahala, terlebih dalam bulan Ramadhan. Selain itu, Jamal sadar sebagian hartanya juga ada hak orang lain yang membutuhkan.
- Itikaf di Masjid.
Itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah. Sebenarnya, itikaf bisa dilakukan setiap waktu. Namun, saat Ramadhan, lebih dianjurkan lagi. Terutama pada 10 hari terakhir puasa. Karena itu hampir setiap hari Jamal mengunjungi masjid.
Kegelisahan Hati Jamal
Walau selalu rajin beribadah hati Jamal gelisah. Ia telah menambah pahala di bulan Ramadhan. Tapi tetap ada pertanyaan: “Apakah semua usaha ini cukup?” Jamal masih belum mendapatkan kepastian surga.
Jamal sempat bertanya ke beberapa teman, keluarganya, dan ulama terkenal di desanya. Namun jawaban yang ia terima justru berbeda. Ia tidak menjadi tenang, malah menjadi lebih khawatir.
Misalnya, Jamal mengetahui ada sanksi berat bagi pelanggar puasa. Jika ada orang yang lalai berbuka satu hari, tanpa alasan baik, maka puasa satu tahun tidak mampu menutupnya (Sunan Darimi 1652).
Atau ayat lain mengatakan belum tentu Allah menerima puasa kita. Bisa saja karena ada kemarahan atau kekotoran hati, puasa kita Allah tolak.
“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya melainkan lapar dan haus . . .” (Hadits Ahmad 8501).
Pada akhirnya semua ibadah baik yang Jamal lakukan tidak cukup. Ia gelisah karena tidak mendapat keyakinan surga.
Rahmat Allah Menolong Manusia
Satu saat Jamal mengunjungi saudaranya di daerah yang agak jauh dari desanya. Di sana ia sempat menonton sebuah acara televisi yang dipandu oleh seorang pria.
Isinya, memberikan jalan keluar. Yaitu agar manusia berdosa mendapat kepastian surga.

Allah menyediakan pertolongan dengan menjelma menjadi manusia. Inilah nabi “Ilahi,” yaitu Isa Al-Masih.
“Tidak seorang pun diterima oleh Allah karena melakukan hal-hal yang terdapat dalam hukum agama. Sebaliknya hukum itu cuma menunjukkan kepada manusia bahwa manusia berdosa. Allah menunjukkan jalan bagaimana manusia diterima oleh dia. Yaitu hanya jika manusia mengimani Isa Al-Masih” (Injil, Surat Roma 3:20-22 BIS, parafrasa).
Jadi jalan untuk selamat adalah dengan mengimani Isa. Kemudian menjadi pengikut-Nya.
Tentu saja informasi ini sangat aneh terdengar bagi Jamal. Pada awalnya ia tidak menanggapinya. Namun beberapa saat kemudian ia teringat terus dengan perkataan pria itu.
Jawaban bagi Kegelisahan Hati Jamal
Akhirnya Jamal memutuskan bertanya ke temannya. Teman Jamal menjelaskan bahwa Isa Al-Masih adalah Ilahi. Ia memang penjelmaan Allah menjadi manusia.
Isa Al-Masih adalah satu-satunya Pribadi yang lahir dari seorang perawan. Isa juga berkuasa membangkitkan orang mati. Dan Isa adalah satu-satunya yang tidak memiliki dosa. Ia adalah Pribadi suci (Qs 19:19).
Kali ini Jamal mendengarkan dengan serius. Ia memang pernah mendengar bahwa Isa adalah Ruh Allah dan Firman Allah (Hadits Ad Darimi No.47).
Teman Jamal melanjutkan dengan menyatakan inilah jalan lurus selamat Allah. Melalui Isa, Allah menunjukkan kebenaran. Melalui-Nya juga Allah memberikan ampunan dosa kita.
“. . . Ia dapat menyatakan kekayaan anugerah-Nya yang tidak ada bandingannya itu . . . dalam Isa Al-Masih. Jadi, karena anugerahlah kamu diselamatkan melalui iman . . . itu bukan karena amalmu, jangan seorang pun menyombongkan diri” (Injil, Surat Efesus 2:7-9).
Jadi pada akhirnya kita selamat karena pertolongan rahmat Allah saja. Bukan karena amal dan ibadah kita.
Teman Jamal menjelaskan, ia hidup dalam ketenangan karena mendapat kepastian surga. Jika ia berbuat baik bukan karena takut neraka. Melainkan karena penuh ucapan syukur akan rahmat Allah melalui Isa.
Mendapat Surga dengan Rahmat Allah

Jamal menjadi kagum dan tertarik menjadi pengikut Isa. Jamal sadar manusia tidak mampu selamat dari perbuatan baiknya sendiri. Bahkan dengan menambah pahala di bulan Ramadhan pun tidak cukup.
Akhirnya Jamal memutuskan untuk mengimani dan menjadi pengikut Isa. Ia mau menerima rahmat Allah untuk hidupnya.
Setelah menjadi pengikut Isa kehidupan Jamal berubah. Ia mengalami damai. Ia tidak takut lagi kepada hukuman akhirat.
Jamal dengan bangga menceritakan kisah hidupnya. Ia ingin semua orang mengetahui bahwa melalui Isa ada damai dan kepastian surga.
“Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia menganugerahkan Isa Al-Masih. Supaya setiap orang yang percaya kepada Isa tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal” (Injil, Yahya 3:16, parafrasa).
Anda pun bisa mengalami damai seperti Jamal. Melalui Isa, Anda mendapatkan ampunan Allah dan kepastian surga. Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih!
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Apakah amalan tambahan Ramadhan bisa menjamin pengampunan dosa? Jelaskan jawaban Anda.
- Menurut Anda apa yang perlu dilakukan agar kita bisa yakin selamat di akhirat?
- Bagaimana pendapat Anda bahwa Isa Al-Masih yang adalah Ruh Allah dan Kalimatullah menjadi jalan lurus bagi keselamatan manusia?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Artikel Terkait
Berikut ini dua link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Puasa Ramadhan dan Cara Muslim Mendekatkan Diri Kepada Allah
- Keistimewaan Bulan Ramadan Untuk Mendapatkan Jalan Yang Lurus
- Putus Asa Atas Dosa Dan Ampunan Allah
Video:
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. atau SMS ke: 0812-9530-4930



PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .