• Skip to main content
  • Skip to header right navigation
  • Skip to site footer
Isa Dan Al-Quran

Isa Dan Al-Quran

Dialog Agama - Isa dan Al-Quran

  • Maksud Situs Ini
    • Tentang Kami
    • 60 Ayat Tentang Isa dalam Al-Quran
    • Isa dan Al-Fatihah
  • Jalan ke Surga
    • Paspor Menuju Sorga
    • 6 Ayat Terpenting
  • Ayat Al-Quran
  • Artikel
    • Daftar Artikel
  • Kitab TZI
  • Hubungi Kami

Sejarah Asal-Usul Puasa Ramadhan – Membawa Ampunan Dosa?

Isa Dan Al-Quran > Ayat-Ayat Al-Quran > Hadith > Sejarah Asal-Usul Puasa Ramadhan – Membawa Ampunan Dosa?
13 March 2024 | 4 Komentar


Puasa Ramadhan sangatlah sakral! Hadist menyatakan bahwa puasa adalah milik Allah. Ia juga yang akan memberikan pahalanya.

“. . . puasa adalah milik-Ku, dan Aku sendirilah yang mengganjarinya, orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya karena Aku . . .” (Shahih Bukhari 6938).

Jika demikian tentu menarik untuk kita lebih paham mengenai puasa. Agar kita bisa beribadah lebih baik dan mendapatkan rahmat-Nya.

Mari kita memahaminya dengan melihat sejarah asal-usul puasa Ramadhan. Kita akan membahas asal usul dan keadaan pertama saat perintah puasa diturunkan.

Keutamaan Ibadah Puasa

Puasa adalah salah satu ibadah utama bagi umat Islam. Setiap orang wajib melakukannya.

Bahkan ada beberapa pandangan ulama yang sangat tegas menyatakan puasa adalah salah satu pilar agama. Sehingga barangsiapa yang meninggalkan puasa, telah meninggalkan Islam.

Ajaran agama juga memberikan berbagai manfaat puasa. Yang terutama adalah untuk menghapus dosa dan mendapatkan pahala (Shahih Bukhari 1869).

Jika hukum ini sedemikian penting, tentu latar belakangnya juga menarik. Mari kita simak sejarah asal-usul puasa Ramadhan.

Latar Belakang Sejarah Puasa Ramadhan

Konsep puasa sudah ada dari sejak permulaan sejarah manusia. Ada banyak catatan kuno yang menginformasikan bentuk puasa dalam berbagai peradaban zaman dahulu.

Khususnya agama samawi seperti Yahudi dan Nasrani juga melakukan puasa. Orang Yahudi telah melakukannya ratusan tahun sebelum Masehi.

Menariknya pada awalnya umat Islam tidak berpuasa. Belum ada perintah mengenai hal ini sama sekali.

Sejarah asal-usul puasa Ramadhan bermula saat Nabi Islam hijrah ke Madinah. Saat itu ia melihat ada orang Yahudi berpuasa.

“Ketika Nabi telah sampai dan tinggal di Madinah, Beliau melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari ‘Asyura’ . . . Maka Beliau bersabda: ‘Aku lebih berhak dari kalian terhadap Musa.’ Lalu Beliau memerintahkan untuk berpuasa” (Shahih Bukhari 1865).

Inilah awal mulanya umat Islam melakukan puasa. Dahulu umat melakukannya pada hari Asyura yaitu tanggal 10 bulan Muharram.

Memang, Al-Quran Surat Al-Baqarah 2 ayat 183 meneguhkan hal ini, bahwa puasa Islam adalah seperti yang diwajibkan umat lain sebelumnya.

Sejarah Perubahan Bulan Puasa

Dalam perkembangannya ada perubahan waktu berpuasa. Tujuan adalah untuk menjadi pembeda dengan waktu puasa kaum lainnya.

“Para sahabat berkata: ‘. . . itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani.’ Maka Rasulullah bersabda: ‘Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram).’ Tahun depan itu pun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah wafat” (Shahih Muslim 1916).

Mengenai perubahan waktu ini ada beberapa pandangan. Mari kita lihat uraian singkatnya.

  1. Perbedaan tanggal.
    Walaupun Hadist ini shahih tapi bisa ada perbedaan informasi, dimana yang dimaksudkan adalah bulan ke sembilan bukan hari kesembilan. Bulan sembilan memang adalah bulan Ramadhan.
  2. Perbedaan kalender.
    Pandangan lainnya bahwa ada kemungkinan perbedaan pemahaman. Karena pada awalnya kalender umat Yahudi dan Islam masih sama.
    Kemungkinan puasa pada awalnya mengikuti kalender Yahudi. Yaitu saat mereka merayakan “Yom Kippur” atau hari penebusan. Yang memperingati pembebasan Allah dari kekuasaan Firaun.
    Selanjutnya Nabi Islam ingin kalender umat berbeda. Ia lalu melarang penggunaan kalender umat lainnya. Inilah yang mengakibatkan perubahan waktu puasa.

Apapun latar belakangnya, setelah kejadian ini ada penyesuaian puasa menjadi pada bulan Ramadhan (Qs 2:185).

Perbedaan Sejarah Asal-Usul Puasa Ramadhan

Selanjutnya ada satu perbedaan mencolok. Yaitu antara puasa Islam dengan puasa kaum lainnya. Hal ini adalah waktu berbuka saat subuh. Hadist Shahih Bukhari 1782 menceritakan kisahnya.

Ada sahabat nabi bernama Qais bin Shirmah Al Anshariy. Saat itu ia berpuasa namun ketika berbuka tidak ada makanan.

Qais meminta istrinya mencarikan makanan. Namun karena kelelahan ia malah ketiduran sampai hari berikutnya.

Keesokan harinya ia bekerja dan melanjutkan puasanya. Namun ia akhirnya malah jatuh pingsan.

Memang pada awalnya peraturan puasa sangat berat. Ditambah situasi Timur Tengah yang panas, banyak umat tidak mampu menjalankannya.

Melihat keadaan ini Nabi Islam mengeluarkan ayat yang memberikan keringanan. Yaitu bisa bercampur dengan istri saat malam hari dan berbuka saat subuh (Qs 2:187). “. . . dengan turunnya ayat ini para sahabat merasa sangat senang . . .” (Shahih Bukhari 1782).

Pertanyaan Mengenai Sejarah Asal-Usul Puasa Ramadhan

Semua kisah ini membuat kita bisa mengerti sejarah asal-usul puasa Ramadhan. Namun memahaminya malah menimbulkan beberapa pertanyaan. Mengapa berbagai peraturan puasa datang sesuai keadaan saat itu? Jika demikian, mampukah amalan puasa menghapuskan dosa?

Meresponi pertanyaan ini, ulama memberikan penjelasan. Pertama memang hukum syariat turun secara bertahap.

Selanjutnya mengenai pertimbangan dosa, itu adalah kedaulatan Allah. Kita sebagai umat tidak tahu pandangan Allah di akhirat nantinya.

Bisa saja banyak umat menjalankan puasa namun ibadahnya tidak Allah terima. Atau umat yang tekun berpuasa namun tetap dosanya lebih berat.

Dalam keadaan seperti ini, bagaimana jalan selamat Allah? Mari kita simak lebih lanjut.

Sejarah Puasa yang Berbeda

Umat Nasrani juga melakukan ibadah puasa. Namun bentuk dan alasannya sangat berbeda.

Contohnya waktu puasa bersifat pribadi. Tidak ada saat bersama yang ditentukan untuk seluruh umat.

Selanjutnya puasa Nasrani penuh syukur dan bahagia. Mereka tidak terbeban untuk melakukannya. Hal inilah yang sering mengejutkan bagi orang lain yang melihatnya.

Sumber sejarah puasa Nasrani berasal dari ajaran Isa Al-Masih. Dalam kehidupan-Nya, Isa mengajarkan dan mencontohkan puasa.

Menariknya, ajaran Isa memberi kepastian bahwa puasa kita pasti akan Allah terima. Juga ada jaminan selamat di akhirat. Bagaimana hal ini mungkin terjadi?

Allah yang Menolong Manusia

Isa mengajarkan mengenai kasih Allah. Dalam kasih-Nya, Allah ingin menolong manusia berdosa.

Memang benar Allah Maha Suci, sehingga Ia tidak akan menerima apapun yang tidak baik (Hadits Ahmad No.7998).

Karena itu Allah menyediakan jalan untuk manusia selamat. Allah menjelma menjadi manusia, inilah Isa Al-Masih, lalu Ia berkorban di kayu salib untuk menebus manusia dari hukuman dosa.

“Kita diselamatkan-Nya, bukan karena perbuatan-perbuatan baik [amalan] yang kita lakukan, melainkan karena rahmat-Nya . . . yang sudah dicurahkan atas kita . . . oleh Isa Al-Masih, Penyelamat kita . . . untuk memperoleh hidup yang kekal [surga]” (Injil, Titus 3:5-7).

Kita bisa menerima jalan Allah ini. Cara dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.

Inilah dasar ibadah dan puasa umat Nasrani.  

Puasa yang Pasti Allah Terima

Dengan dasar ini membuat perbedaan besar. Kita bisa puasa bukan untuk memperoleh selamat.

Namun justru kita berpuasa setelah mendapatkan ampunan-Nya. Sehingga tujuan kita beribadah untuk lebih mendekatkan diri dan bersyukur kepada-Nya.

Inilah alasan mengapa umat Nasrani tidak beribadah dalam ketakutan hukuman akhirat. Namun justru dalam keyakinan telah menerima rahmat Allah.

Dengan menjalankan puasa ini terdapat banyak manfaatnya. Sejarah puasa Nasrani memberitahu kita beberapa diantaranya.

  1. Lebih termotivasi beribadah.
    Dengan ucapan syukur kita justru lebih rindu ibadah. Hal ini bukan karena kewajiban melainkan karena keinginan hati.
  2. Mendatangkan kemenangan atas cobaan.
    Isa memberi teladan kemenangan yaitu saat Ia berpuasa dan dicobai oleh setan di padang gurun. Hal ini menyatakan bahwa ibadah yang benar pasti membuat kita kuat menolak godaan.
  3. Menjadi kesempatan berbuat baik.
    Waktu puasa menjadi pengingat kita menolong orang lain yang membutuhkan. Namun dasar amalan kita bukan untuk menutup dosa. Melainkan karena bersyukur mendapatkan ampunan-Nya dan ingin lebih mengenal Allah.

Berpuasa dengan Penuh Syukur

Rupanya banyak hal menarik dari sejarah asal-usul puasa Ramadhan. Namun kita tidak mendapatkan jaminan surga melaluinya.

Maukah Anda mendapatkan jaminan ampunan Allah dan surga? Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih. Inilah jalan Allah untuk manusia bisa mendekat kepada-Nya.

“Jikalau kita mengakui dosa-dosa kita [melalui Isa Al-Masih], maka Allah, yang dapat dipercaya dan benar itu, akan mengampuni dosa-dosa kita serta menyucikan kita dari semua kejahatan” (Injil, 1 Yahya 1:9).

 


Artikel Terkait

Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Sejarah Asal-Usul Puasa Ramadhan – Membawa Ampunan Dosa?”. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:

  1. Mencari Rahmat Allah: Mempelajari Puasa Islam Dan Kristen
  2. Ingin Puasa Anda Sukses? Berikut Amalan Penghapus Dosa yang Benar
  3. Inilah Ibadah Tertinggi Yang Pasti Allah Terima

Video:

  1. Tidak Sanggup Membayar Hutang Puasa? Ini Solusinya!

Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Menurut Anda mengapa banyak penyesuaian dan perubahan dalam sejarah asal-usul puasa Ramadhan?
  2. Bagaimana pendapat anda mengenai sejarah puasa yang bermula saat melihat umat lain menjalankan ibadah?
  3. Bagaimana menurut Anda mengenai puasa Nasrani karena bersyukur sudah mendapatkan ampunan dosa?

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau SMS/WA ke: 0812-9530-4930.

Category: HadithTag: Puasa

Bagikan Artikel Ini:

Share on Facebook Share on X (Twitter) Share on WhatsApp Share on Email Share on SMS

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .

Subscribe
Beritahulah

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
3. Sebelum menuliskan jawaban, copy-lah pertanyaan yang ingin dijawab terlebih dahulu.
4. Tidak diperbolehkan menggunakan huruf besar untuk menekankan sesuatu.
5. Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.
6. Satu orang komentator hanya berhak menuliskan komentar pada satu kolom. Tidak lebih!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .

Kiranya petunjuk-petunjuk di atas dapat kita perhatikan.

Wassalam,
Staf, Isa dan Al-Quran

4 Komentar
Paling lama
Terbaru
Hasanudin
20 March 2024 9:13 am

~
Puasa adalah kewajiban bagi umat Islam. Sebagaimana kewajiban sholat lima waktu setiap harinya dan kewajiban-kewajiban yang lain diperintahkan oleh Allah untuk hambanya yang bertakwa, jika tidak dijalankan maka harus dibayar di hari yang lainnya.

Balas
Admin
Staff Isa dan Al-Quran
31 March 2024 11:41 pm
Balasan ke  Hasanudin

~
Saudara Hasanudin,

Terima kasih untuk penjelasannya. Ya, kami setuju bahwa puasa merupakan salah satu kewajiban dari umat Muslim untuk dilakukan.

Tidak banyak yang mengetahui tenyata umat Nasrani juga melakukan puasa. Isa Al-Masih sendiri juga memberikan teladan iman pada para pengikut-Nya untuk berpuasa.

Bahkan dalam Injil Rasul Besar Matius 6:16 dituliskan bahwa saat berpuasa tidak perlu memperlihatkan bahwa seseorang sedang berpuasa. Umat Nasrani memahami puasa sebagai bentuk ucapan syukur atas kasih yang Isa Al-Masih tunjukan bagi manusia. Jadi puasa bukanlah sebuah keharusan dengan tujuan mencari atau mengumpulkan amalan.
~
Salma

Balas
Gandhi Waluyan
23 February 2025 5:12 pm

~
Maksud puasa Asyura itu adalah puasa sunnah bulan Muharram dihari ke-10. Ini sudah dilakukan Rasulullah. Namun ternyata telah dilakukan pula oleh Yahudi.

Maka untuk menselisihkan Rasulullah berniat menambahkan sehari sebelumnya yang disebut puasa Tasua yang artinya hari ke-9 bulan Muharram. Sedangkan arti Asyura adalah 10. Puasa Ramadhan beda lagi. Itu wajib karena tertulis dalam Al-Quran. Waktunya pun jelas dibulan Ramadhan.

Balas
Admin
Staff Isa dan Al-Quran
28 February 2025 9:49 pm
Balasan ke  Gandhi Waluyan

~
Saudara Gandhi,

Kami menghargai pendapat saudara. Berpuasa adalah kegiatan keagamaan yang dimiliki banyak agama. Walaupun demikian, seseorang diterima Allah bukan karena puasa.

Itu sebabnya, Isa Al-Masih mengajarkan kepada para murid-Nya untuk meminyaki kepala dan tidak memurungkan wajah ketika berpuasa. Isa Al-Masih berfirman untuk menegaskan ini, “…Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Injil, Rasul Besar Matius20:28).

Bagaimana perasaan saudara mengetahui ini?
~
Salma

Balas

Sidebar

Artikel Terbaru

  • Bolehkah Merayakan Maulid Nabi? Dalil & Maknanya Bagi Mukmin
  • Taurat Injil Diubah? Cendekiawan Islam Berkata Lain!
  • Isa Hanya Seorang Nabi? Pandangan Islam Dan Nasrani
  • Awal Mula Qurban Menyatakan Ridha Allah? Ini Faktanya
  • Nabi Isa Disalib Atau Tidak? Ini Fakta Sejarahnya

Artikel Terpopuler Bulan Ini

  • Isa Hanya Seorang Nabi? Pandangan Islam Dan Nasrani
  • Taurat Injil Diubah? Cendekiawan Islam Berkata Lain!
  • Bolehkah Merayakan Maulid Nabi? Dalil & Maknanya Bagi Mukmin
  • Benarkah Hanya Bahasa Arab Bahasa Al-Quran Asli?
  • Dalil Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Allah Untuk Manusia Berdosa

Artikel Yang Terhubung

  • Rahasia Kalimat Allah Membawa Ketenangan Hati Mukmin
  • Mungkinkah Mukmin Mencapai Tujuan Utama Puasa Ramadhan?
  • Sia-Sia Menambah Pahala Di Bulan Ramadhan?
  • Menghindari Pembatal Puasa Ramadan, Akankah Muslim…
  • Hal Terpenting Dari Sejarah Kiblat Umat Islam

Hubungi Kami

Apabila Anda memiliki pertanyaan / komentar, silakan menghubungi kami dengan menekan tombol di bawah ini.

Hubungi Kami

Renungan Berkala Isa dan Al-Fatihah

Apabila Anda ingin menerima renungan singkat setiap minggu, silakan menekan tombol di bawah ini

Renungan Berkala Isa dan Al-Fatihah

Social Media

Facebook
TikTok
Instagram
YouTube

Hak Cipta © 2009 – 2023 Dialog Agama Isa dan Al-Quran. | Kebijakan Privasi | Kebijakan Dalam Membahas Email | Hubungi Kami

wpDiscuz