Pernahkah Anda bertanya mengapa sholat perlu menghadap arah tertentu?
Kiblat adalah petunjuk arah untuk posisi muka/ depan. Yaitu perlu menghadap ke Baitullah di Mekah.

Walaupun demikian, tidak banyak Mukmin yang tahu sejarah kiblat umat Islam. Bagaimana kisahnya dan apa alasannya harus menghadap ke Mekah.
Penting kita mengetahui sejarah kiblat umat Islam. Agar kita bisa menyembah Allah dengan benar. Mari kita simak pembahasannya.
Sejarah Kiblat Umat Islam Pertama Kali
Pada awalnya Nabi Islam tidak menentukan secara spesifik arah kiblat. Umat bisa berdoa ke berbagai arah.
“Kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah” (Qs 2:115).
Namun baru mulai ada kiblat saat awal Nabi Islam hijrah ke Madinah.
Nabi Islam mulai sholat ke arah Masjid Al Aqsa atau dikenal dengan nama Baitul Maqdis. Tempat ini terletak di Yerusalem. Jadi sejarah kiblat umat Islam pertama menghadap ke Yerusalem.
Al-Quran maupun Hadits tidak mencatat alasan jelas mengapa hal ini terjadi. Namun para ahli sejarah Islam menerangkannya.
- Karena Yerusalem adalah pusat penyembahan di Timur Tengah saat itu.
Orang Yahudi dan Nasrani sama-sama menjadikan Yerusalem pusat ibadah. Sehingga aktivitas keagamaan Timur Tengah terpusat di sana.
- Karena Baitullah di Mekah belum siap.
Arah kiblat bertujuan agar umat Islam berdoa ke arah tempat suci. Namun, pada awalnya Baitullah di Mekah penuh dengan 360 berhala (Shahih Bukhari 4351). Perlu waktu untuk membersihkan dan mengalihkan masyarakat ke penyembahan Tauhid.
- Menyatakan perbedaan dengan suku Quraisy.
Jika Nabi Islam menghadap ke Mekah maka akan terlihat setuju dengan kepercayaan mereka. Tapi, Nabi Islam tidak mau sama dengan suku Quraisy karena mereka pada awalnya kafir dan menyembah berhala.
Beberapa Pertanyaan Mengenai Sejarah Kiblat Umat Islam Pertama
Penjelasan di atas merupakan uraian yang baik. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan para cendekiawan Islam.
Beberapa contoh keberatannya adalah:
- Mengapa sejarah kiblat umat Islam pertama sama dengan orang Yahudi?
- Bukankah di Yerusalem juga ada berbagai sesembahan lain?
- Mengapa tidak ada ayat atau dalil yang menjelaskan kepentingan hal ini?
Para sejarawan Islam mencoba memberati penjelasan. Bahwa pada dasarnya, arah sholat ditujukan untuk menghadapkan diri pada Allah. Jadi memang awalnya umat bisa menghadap ke segala arah.
Nabi Islam mengarahkan ke Yerusalem karena itulah pusat penyembahan yang ada saat itu. Dan juga untuk menarik simpati orang Yahudi dan Nasrani. Tujuannya agar mereka mau hijrah mengikutinya, namun rupanya tidak berhasil.
Sejarah Kiblat Umat Islam Berubah
Selanjutnya Hadits menyatakan bahwa Nabi Islam merindukan perubahan arah kiblat. Agar berpindah menghadap Mekah.
“Rasulullah shalat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan . . . Rasulullah menginginkan kiblat tersebut dialihkan ke arah Ka’bah. Maka Allah menurunkan ayat . . .” (Shahih Bukhari 384).
Ada berbagai alasan mengapa Nabi Islam ingin perubahan arah kiblat. Para ahli sejarah mencatat berbagai peristiwa yang mendukung hal ini.
- Agar berbeda dari orang Yahudi.
Orang Yahudi mempertanyakan mengapa arah kiblat sama dengan mereka. Sedangkan para pengikut Nabi Islam juga mempertanyakan. Mereka tidak setuju jika menghadap sama seperti pemeluk agama lainnya.
- Karena keadaan Mekah lebih kondusif.
Kondisi selanjutnya adalah keadaan Mekah yang berbeda. Sekarang pengaruh Nabi Islam makin luas di sana. Sehingga bisa menetapkan berbagi aturan baru.
- Untuk menarik berbagai suku Arab.
Memindahkan pusat penyembahan ke Mekah sangat menarik bagi banyak suku-suku Arab. Berhubungan dengan poin sebelumnya, Baitullah juga sudah dibersihkan dari berbagai berhala.
- Lokasi Mekah yang baik.
Mekah merupakan tempat kelahiran Nabi Islam. Juga dengan makin meluasnya pengaruh saat itu, menjadikan Mekah tempat yang ideal untuk pusat ibadah.
Al-Quran mencatat bahwa Allah mengikuti keinginan sang Nabi. “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam . . .” (Qs 2:144).
Inilah sejarah kiblat umat Islam.
“Arah Kiblat” Yang Terutama
Di samping semua temuan sejarah kiblat umat Islam ini, ada hal yang terpenting. Bahwa inti ibadah bukan sekadar lokasinya. Melainkan hati yang benar di hadapan Allah.
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah . . .” (Qs 2:177).
Inilah yang menjadi masalah utama manusia. Karena kita tidak mungkin memiliki hati yang bersih. Manusia pasti berbuat banyak dosa.
Kita bisa saja memiliki arah kiblat yang benar. Namun jika hati kita kotor maka tidak mungkin ibadah kita akan Allah terima.
Sehingga inilah sebenarnya arah kiblat yang terutama. Yaitu hati yang benar tertuju kepada Allah. Namun bagaimana kita bisa mendapatkannya?
Kiblat Terbaik dari Hati

“Tuhan bersabda, ‘Langit adalah arasy-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku. Rumah yang bagaimanakah pula yang akan kamu bangun bagi-Ku . . . Bukankah Aku sendiri yang membuat semuanya itu?’” (Injil, Kisah Para Rasul 7:49-50).
Selanjutnya Kitab Zabur menekankan kesucian hati yang terpenting. Tanpanya, doa dan amal kita tidak akan Allah terima (Zabur 66:18).
Karena itu kiblat sejati adalah arah hati manusia. Allah mengingini umat yang beribadah dengan hati bersih yang tertuju hanya kepada-Nya.
Dalam hal ini Allah mengerti kelemahan kita. Karena itu Ia memberikan pertolongan-Nya.
Cara Mendapatkan Kiblat Hati yang Benar
Allah menolong manusia dengan cara memberi Isa Al-Masih.
Isa adalah perwujudan Allah dalam bentuk manusia. Karena itu Isa jauh lebih mulia dari sekadar bangunan bait suci.
“Aku berkata kepadamu: Di sini ada [Isa Al-Masih] yang melebihi Bait Allah [Baitullah]” (Injil, Matius 12:6).
Inti ibadah yang benar adalah dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih. Melaluinya kita bisa mendapatkan pembersihan hati. Sehingga kita bisa benar di hadapan Allah.
“Jikalau kita mengakui dosa-dosa kita [melalui Isa], maka Allah . . . akan mengampuni dosa-dosa kita serta menyucikan kita dari semua kejahatan” (Injil, 1 Yahya 1:9).
Inilah kiblat manusia yang sejati. Yaitu hati yang bersih dalam ibadah. Sehingga nantinya pun kita bisa masuk surga.
Maukah Anda mendapatkan hati yang bersih yaitu kiblat yang benar? Mari mengimani Isa!
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Menurut Anda mengapa sejarah kiblat umat Islam pertama menghadap ke Yerusalem?
- Apakah Saudara merasa orang Kristen lebih baik berkiblat ke Yerusalem? Jelaskanlah alasan-alasan Saudara.
- Apakah Saudara merasa lebih penting orang bershalawat memperhatikan kiblat atau pembersihan hatinya dari dosa? Jelaskanlah jawaban Saudara.
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Hal Terpenting Dari Sejarah Kiblat Umat Islam”. Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
- Sholat, Kiblat, Dan Konsep “Rumah Allah” Yang Membingungkan
- Mahasiswa Meneliti Sejarah Kota Suci Mekah Dan Yerusalem
- Benarkah Ibrahim Membangun Ka’bah?
Video:
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel “Fondasi Kiblat Islam Dan “Kiblat” Kristen”, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau SMS/WA ke: 0812-9530-4930



Kondisi selanjutnya adalah keadaan Mekah yang berbeda. Sekarang pengaruh Nabi Islam makin luas di sana. Sehingga bisa menetapkan berbagi aturan baru.
PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .