
Akhirnya kami terlibat dalam diskusi. Karena telah berteman baik sebelumnya, maka kami bisa berbicara dengan terbuka.
Memang adalah kerinduan umat beragam untuk masuk surga. Namun kadang kita merasa sulit mencapainya karena kita memiliki dosa.
Bagaimana syarat masuk surga menurut Alkitab dan Al-Quran? Mari kita lihat agar bisa memahami dengan benar.
Syarat Masuk Surga Menurut Islam Masuk Akal
Maryanto menjelaskan bahwa dalam agamanya terlihat Allah lebih adil. Untuk masuk surga, perbuatan manusia akan ditimbang oleh Allah.
Nantinya kita akan melihat mana yang lebih berat. Apakah timbangan dosa atau timbangan amal dan ibadah kita.
Jika timbangan dosa lebih berat maka seseorang masuk neraka. Namun jika timbangan amal ibadahnya lebih banyak, maka masuk surga.
“Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam . . .” (Qs 23:102-104).
Hal ini akan membuat kita berusaha hidup baik. Sehingga selama hidup kita termotivasi beramal dan taat beragama.
Saya merespon bahwa memang pandangan ini terlihat baik. Namun kita manusia pasti memiliki banyak dosa. Bagaimana menyikapi hal ini?
Maryanto menjawab, bagi para hamba Allah akan ada jalannya. Yaitu jika kita jatuh saat melewati jembatan shiratal mustaqim, memang akan disiksa. Namun setelah masa hukuman Allah bisa menyelamatkan manusia tersebut.
Syarat Masuk Surga Menurut Alkitab Lebih Sulit?
Kemudian Maryanto langsung balik bertanya: “Bagaimana dengan kepercayaan kamu sendiri?” Karena ia pernah mendengar pandangan Nasrani, bahwa hanya dengan mengimani Isa Al-Masih, orang bisa selamat. Ia tidak paham mengapa semudah itu.

Karena Allah adalah Maha Suci. Sedangkan kita manusia pasti memiliki dosa.
Syarat masuk surga sebenarnya adalah kita harus menaati perintah Allah 100%. Tidak boleh ada pelanggaran sedikitpun. Karena dosa kecilpun akan terlihat di hadapan Allah.
Saya memberi contoh. Bukankah Nabi Adam dan Siti Hawa juga mengalaminya. Mereka hanya berbuat satu dosa dengan memakan buah terlarang. Namun mereka langsung diusir dari taman Eden.
Syarat masuk surga menurut Alkitab ini sesuai definisi takwa 100%. Yaitu menaati semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya.
Tantangan Masuk Surga
Maryanto terkejut dengan penjelasan ini. Ia kemudian berkata, “Apakah menurut pandanganmu harus sesempurna itu? Bagaimana jika ada orang yang sangat baik, bukankah Allah akan mengasihaninya?”
Saya jelaskan pada dasarnya semua manusia berdosa. Karena itu sulit mencari manusia yang timbangan kebaikannya melebihi atau minimal menyamai dosanya.
Namun seandainya ada pun, tetap tidak mampu masuk surga. Karena surga tempat Allah yang Maha Suci.
Saya memberikan dua gambaran mengenai umat Islam dalam menjaga diri dari hal-hal najis.
Pertama, misalnya ada seseorang yang sudah membersihkan dirinya maksimal. Ia berjalan pergi untuk sholat. Namun di tengah jalan kena sedikit saja jilatan anjing. Bagaimana akibatnya?
Maryanto dengan tegas menyatakan ia menjadi najis. Ia tidak boleh sholat sampai membersihkan dengan tanah dan air (Shahih Muslim 420).
Gambaran kedua, bagaimana jika ada seorang Mukmin taat yang memasak. Ia sudah menghabiskan waktu lama dan banyak bahan dalam masakannya. Namun entah mengapa terkena setetes minyak babi. Apa yang terjadi dengan masakannya?
Mendengar ini Maryanto tersenyum. Ia menjawab bahwa hal ini sama saja. Tentu saja semua isi masakan yang tercampur itu menjadi najis.
Saya lalu menegaskan. Bahwa inilah keadaan manusia di hadapan Allah. Sedikit dosa saja sudah pasti membuat kita tidak layak.
Tidak Ada Kepastian Surga
Mendengar penjelasan ini, Maryanto mengakui kegelisahannya. Ia berkata bahwa pada kenyataannya memang banyak umat Islam yang takut akhirat.

Misalnya kita rajin beribadah. Kita tidak pernah bolong sholat dan puasa. Namun Allah melihat kesombongan dalam hati.
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji dari kesombongan” (Hadits Muslim No.133).
Selain itu Allah belum tentu menerima amal kita. Bahkan Hadist menyatakan bahwa orang selamat bukan karena amalannya (HR. Muslim 2817).
Inilah yang memang menjadi tantangan umat. Kita tidak tahu dengan pasti apa yang terjadi di akhirat.
“. . . demi Allah meskipun aku ini Rasulullah, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya terhadapku” (Shahih Bukhari 1166).
Jalan untuk Masuk Surga
Saya lanjut menjelaskan bahwa memang hal inilah yang menjadi kesulitan manusia. Kita semua terbatas dan lemah.
Dari pemahaman ini, kita melihat pandangan berbeda. Sekarang kita lebih mengerti syarat masuk surga menurut Alkitab (Kitab Taurat, Zabur dan Injil).
Alkitab menjelaskan bahwa jalan masuk ke surga bukan bergantung tindakan baik manusia. Melainkan murni karena rahmat Allah.
Allah melakukannya dengan menjelma menjadi manusia. Inilah Isa Al-Masih. Umat Nasrani mengimani-Nya sebagai Pribadi Ilahi.

Melalui Isa, syarat masuk surga menurut Alkitab terpenuhi. Yaitu Allah melihat kepada pengorbanan Isa, bukan perbuatan baik manusia.
Melalui Isa, kita mendapatkan ampunan dosa. Kita juga mendapatkan jaminan untuk masuk surga. Caranya dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
“Melalui Isa Al-Masih, Allah memberikan pengampunan dosa. Setiap orang yang mengimani-Nya dibebaskan dari segala dosa. Hal ini tidak mungkin tercapai dari berusaha memenuhi seluruh perintah Allah” (Injil, Kisah para rasul 13:38-39, BIS parafrasa).
Terlalu Mudah Masuk Surga?
Maryanto berkata bahwa sekarang ia menjadi lebih paham. Ia mengerti konsep perlunya “juruslamat.”
Namun Maryanto bertanya: “Jika demikian bukankah terlalu mudah dan enak? Kita tidak memiliki motivasi berbuat baik. Sedangkan dalam agama saya, kami justru didorong terus berbuat kebaikan.”
Saya jelaskan bahwa umat Nasrani sangat didorong berbuat kebaikan. Minimal karena dua hal.
Pertama karena kita mengucap syukur atas kebaikan Allah. Mengetahui bahwa tersedia ampunan-Nya dan kepastian surga. Membuat kita hidup dalam damai dan ucapan syukur.
Kedua karena setelah mengimani Isa, kita menjadi pengikut-Nya. Hal ini berarti mempelajari dan mengamalkan ajaran-Nya.
Isa terutama mengajarkan prinsip kasih. Sehingga para pengikut Isa yang benar akan melakukan kebaikan.
“Isa Al-Masih telah menyerahkan diri-Nya demi kita untuk menebus kita dari segala kejahatan dan untuk menyucikan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri yang rajin berbuat baik” (Injil, Surat Titus 2:14).
Kepastian Surga!
Jadi syarat masuk surga menurut Alkitab sangat jelas. Manusia perlu mengimani dan menjadi pengikut Isa. Melalui-Nya kita bisa mendapatkan surga Allah.
Maukah Saudara Pembaca, mendapatkan kepastian surga? Kita bisa memenuhi syarat masuk surga dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Mari mengimani Isa sekarang!
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Manakah syarat masuk surga yang benar, suci 100% atau syarat masuk surga menurut Islam -kebaikan melebihi dosanya? Mengapa?
- Apakah Saudara setuju bahwa jika kebaikan kita 51%, kita pasti akan masuk surga? Apakah Saudara yakin akan masuk surga? Tolong jelaskan.
- Apakah ada cara terbaik agar masuk surga, selain penyucian dosa oleh Isa Al-Masih? Jelaskan!
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Dapatkah Ketakwaan dalam Islam Menjamin Masuk Sorga?
- Dapatkah Amal Ibadah Menyelamatkan Orang Islam?
- Apakah Amal Islam Mengungguli Amal Agama Lain?
Video:
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau SMS/WA ke: 0812-9530-4930


PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .