Ibadah puasa adalah wajib bagi umat Islam. Namun tahukah Anda bahwa praktek puasa sudah ada dalam berbagai kebudayaan kuno?
Umat Islam memang memiliki pengertian bulan puasa. Namun baik juga untuk kita mempelajari hikmah dari umat sebelumnya.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Qs 2:183).
Mari kita simak apa pengertian bulan puasa. Kita akan melihat dari Al-Quran, dan juga berbagai kebudayaan kuno. Agar kita bisa memahaminya dengan lebih dalam.
Pengertian Bulan Puasa: Agama Islam
Peraturan agama sangat jelas bahwa puasa adalah ibadah wajib. Kita perlu menunaikannya dalam hidup ini. Puasa sangat penting. Sehingga tidak boleh ada hutang puasa. Jika ada maka kita perlu membayarnya. Bahkan anak akan menanggungnya jika ada hutang puasa orangtuanya. Pengertian bulan puasa bagi umat Islam adalah untuk menahan diri. Menyangkal nafsu dan fokus beribadah. Agama mengajarkan bahwa ibadah saat bulan puasa maka Allah akan memberi pahala berlipat. Selain itu, ada hadiah terbesar puasa. Yaitu Allah menjanjikan ampunan dosa. “. . . tentang bulan Ramadhan: ‘Barangsiapa yang menegakkannya karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya’” (Shahih Bukhari 1869).Pengertian Bulan Puasa: Memperluas Sudut Pandang
Dari penjelasan kini kita mengambil kesimpulan bahwa pengertian bulan puasa adalah waktu wajib ibadah. Dengan berbagai pahala yang Allah janjikan.
Namun menariknya, umat Islam bukanlah umat yang pertama melakukannya. Bahkan Al-Quran sendiri meneguhkan bahwa ibadah ini sudah ada sebelumnya (Qs 2:183).
Kadang beberapa orang tidak menyadari hal ini. Pernah satu kali ada beberapa teman kantor bercakap-cakap waktu pulang kantor pada bulan puasa.
Seorang teman berkata: “Kita perlu selalu berbuka dengan yang manis. Karena itu saya segera akan mencari takjil manis.”
Kemudian teman lain menanggapi. “Sebenarnya berbuka paling baik itu dengan air putih terlebih dahulu.”
Teman yang pertama terkejut. Karena ia mendengar itu dari non-Muslim. Ia baru tahu bahwa non-Muslim juga menjalankan puasa.
Kita bisa mendapatkan pengertian bulan puasa lebih dalam. Mari kita lihat dari berbagai kebudayaan kuno.
Pengertian Bulan Puasa: Kebudayaan Kuno
Sejarah puasa sudah ada sejak ribu tahun yang lalu. Dalam semua kebudayaan manusia terdapat ritual puasa. Pengertian bulan puasa pada umumnya untuk beribadah dan kesehatan. Mari kita lihat beberapa diantaranya.- Agama Hindu. Disebut “Upavasa.” Dengan tujuan penyucian diri, pengendalian hawa nafsu, penghormatan kepada dewa.
- Buddhisme. Biksu dan biksuni mengikuti aturan “Vinaya.” Yaitu tidak makan setelah tengah hari. Ada juga praktik “Uposatha” (hari pemurnian). Untuk umat awam berpuasa atau membatasi makanan.
- Mesir Para iman berpuasa sebelum memasuki kuil atau melaksanakan ritual. Tujuannya untuk penyucian spiritual sebelum berkomunikasi dengan para dewa.
- Agama Zoroastrian (Persia). Tidak mendorong puasa ekstrem. Tetapi menganjurkan pantang makanan tertentu sebagai simbol pengendalian diri. Ada periode puasa sebelum ritual penyucian “bareshnum.”
- Tradisi Maya dan Aztek. Puasa adalah bagian penting dari berkomunikasi dengan dewa dan pesta keagamaan besar. Ada banyak praktik kombinasi antara puasa, berpantangan, dan kadang pengorbanan diri ringan.
Pengertian Bulan Puasa: Umat Sebelumnya
Menarik melihat berbagai praktik puasa sebelumnya. Namun ada praktik puasa yang lebih dekat dengan umat Islam.
Praktik ini dilakukan oleh umat Yahudi dan Nasrani. Karena pada zaman awal syiar Islam, kehidupan orang Arab sangat familiar dengan kedua umat ini. Kemungkinan besar umat Nasrani dan Yahudi juga yang dimaksudkan Al-Quran sebagai umat sebelumnya (Qs 2:183).
- Umat Yahudi. Bagi umat Yahudi, puasa adalah praktik spiritual. Bertujuan untuk pertobatan, introspeksi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Mereka berpuasa pada hari-hari tertentu. Berfokus pada duka cita, pengakuan dosa, dan permohonan pengampunan. Contohnya saat Yom Kippur (Hari Pendamaian 25 jam). Juga Tisha B’Av (peringatan penghancuran Bait Suci).
- Umat Nasrani. Umat Nasrani juga memiliki periode puasa. Ada yang puasa selama beberapa hari, sepanjang minggu maupun 40 hari. Puasa adalah disiplin rohani sukarela, bukan kewajiban. Tujuannya untuk merendahkan diri, mencari kehendak Allah, maupun memperdalam hubungan spiritual dengan-Nya.
Hikmah dari “Umat Sebelumnya”
Melihat semua penjabaran ini, puasa Nasrani yang berbeda. Pengertian bulan puasa atau masa puasa Nasrani juga sangat unik. Pertama puasa bersifat personal. Yaitu waktu ibadah pribadi. Bisa dilakukan dalam kelompok atau gereja. Tapi tidak harus seluruh umat pada saat bersamaan. Namun yang terutama, puasa Nasrani bukan untuk mendapat jalan ke surga. Puasa dilakukan dengan ucapan syukur, karena justru mengimani telah mendapatkan jalan lurus-Nya. Berikut ini beberapa hikmah dari puasa Nasrani.- Introspeksi diri. Datang kepada Allah dengan rendah hati. Bertobat atas dosa pribadi dan mensyukuri anugerah ampunan-Nya (Taurat, Daniel 9:3-5).
- Saat pribadi dengan Allah. Puasa justru bukan untuk diketahui orang lain. Tidak boleh bermuka muram atau lemas supaya orang menyadari kita puasa (Injil, Matius 6:16).
- Menang atas nafsu. Dengan rahmat Allah, mengatasi godaan setan. Caranya dengan membaca dan mengamalkan ajaran dari Kitab Taurat, Zabur, dan Injil (Injil, Matius 4:2-11).
- Waktu untuk menolong orang yang membutuhkan. “. . . seandainya aku menyedekahkan segala sesuatu yang ada padaku untuk memberi makan orang yang lapar atau menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi tidak mempunyai kasih, maka aku tidak berfaedah sama sekali” (Injil, Surat 1 Korintus 13:3).
- Terutama, puasa dengan syukur bahwa Allah telah menyelamatkan. “Kamu dahulu mati karena dosa-dosamu. Namun, kamu diselamatkan Allah melalui Isa Al-Masih. Allah mengampuni dosa-dosa kita dengan pengorbanan Isa pada kayu salib.” (Injil, Surat Kolose 2: 13-14, parafrasa).
Puasa dan Surga Allah
Poin terakhir ini yang paling mengejutkan dan menimbulkan pertanyaan. Karena banyak orang memahami bahwa justru kita berusaha menutup dosa dengan ibadah. Dan bukan sebaliknya kita beribadah karena dosa telah diampuni.
Tapi pandangan umat Nasrani berbeda. Pandangan ini terambil dari Kitab Allah. Yaitu Kitab Taurat, Zabur dan Injil.
Kitab Allah mengajarkan bahwa manusia tidak akan mampu selamat. Semua amal ibadah kita pasti tidak akan menutup dosa.
Alasannya karena Allah Maha Suci. Tidak mungkin satu kejahatan kecilpun yang luput dari-Nya.
Karena itu jalan lurus selamat harus berasal dari Allah. Jadi Allah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan.
Inilah Isa Al-Masih. Isa adalah perwujudan Kalimat Allah. Ia lahir melalui rahim perawan Maryam.
Dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa kita bisa selamat. Allah akan mengampuni dosa. Ia juga yang membimbing dalam jalan lurus ke surga.
“Jikalau kita mengakui dosa-dosa kita [melalui Isa Al-Masih], maka Allah, yang dapat dipercaya dan benar itu, akan mengampuni dosa-dosa kita serta menyucikan kita dari semua kejahatan” (Injil, Surat 1 Yahya 1:9).
Pengertian Bulan Puasa dan Keselamatan Allah
Memang praktik puasa telah ada dari zaman purbakala. Pengertian bulan puasa bisa berbeda, walau secara umum sama. Yaitu tindakan agama untuk mencari pengampunan dosa dan ibadah.
Namun ada satu jalan keselamatan Allah. Yaitu melalui Isa Al-Masih. Melalui-Nya kita akan mendapat ampunan dosa dan surga.
Maukah Anda mendapatkan ampunan Allah? Kemudian kita bisa berpuasa dan beribadah kepada-Nya dalam ucapan syukur.
Mari kita melanjutkan puasa. Namun dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:-
- Mengapa penting bagi umat Islam memahami tentang pengertian bulan puasa ramadhan yang benar?
- Mengapa syarat puasa dalam ajaran Islam berbeda daripada syarat puasa dalam ajaran Yahudi dan Nasrani?
- Bagaimana pengertian Saudara mengenai cara kita masuk surga?
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Bagaimana Pengertian Bulan Puasa Ramadhan yang Benar?“ Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:- 3 Kunci Berhasil Puasa Menurut Isa Al-Masih
- Teladan Puasa Isa Al-Masih Untuk Bulan Ramadan
- Apakah Allah Menerima Puasa Kita?
- Isa Al-Masih Berkata, “Puasa Tidak Menyelamatkan!”


PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .