
Salah satu pengorbanan yang mengharukan adalah pengorbanan Nabi Ibrahim. Karena Allah memberinya cobaan. Yaitu untuk mengorbankan anaknya sendiri.
Bagaimana kisahnya dan apa maknanya? Mari kita simak pembahasan ini agar kita bisa menjadi hamba yang mendapat keridhaan Allah.
Berbagai Contoh Pengorbanan
Kita tentu pernah mendengar berbagai kisah yang sangat menginspirasi mengenai ketabahan para nabi menghadapi tantangan.
Misalnya ketaatan Nabi Nuh untuk membangun bahtera. Beliau mendapat aniaya dari masyarakat pada zamannya. Banyak yang tidak percaya dan malah menghinanya.
Atau bagaimana ketabahan Nabi Musa menghadapi Firaun. Ia harus menghadapi kekejaman Firaun dan tentaranya. Mereka pada awalnya tidak mau membebaskan budak Israel.
Juga tentu saja ada kisah kehidupan Nabi Islam. Beliau hidup dalam banyak peperangan. Ada masanya ia dikejar musuh. Banyak keluarga dan temannya yang gugur dalam peperangan.
Selain itu beliau juga mengalami banyak penderitaan. Terutama pada masa awal, banyak orang yang menindasnya.
Namun dari semua kisah ini, salah satu pengorbanan yang paling menarik adalah pengorbanan Nabi Ibrahim. Karena ia mendapat cobaan untuk mengorbankan anaknya sendiri.
Bagaimana kisahnya? Mari kita lihat uraian berikutnya.
Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim

Hal yang luar biasa adalah Nabi Ibrahim dan anaknya ikhlas. Mereka dengan taat menuju ke tempat pengorbanan.
Memang hal ini sebenarnya adalah ujian dari Allah. “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata” (Qs 37:106). Namun saat itu mereka belum mengetahuinya.
Setelah mereka terbukti taat, Allah mencegah pengorbanan anak Nabi Ibrahim. Kemudian Ia menggantinya dengan hewan besar (Qs 37:107).
Kisah ini sangat luar biasa. Bahkan salah satu ibadah penting umat Islam adalah Idul Adha. Perayaan ini terinspirasi dari pengorbanan Nabi Ibrahim.
“. . . ‘Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?’ beliau bersabda: ‘Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim . . .’” (Sunan Ibnu Majah 3118).
Kisah Pengorbanan Seorang Ayah
Memang salah satu pengorbanan terutama adalah seorang ayah kepada anak yang terkasihnya. Bagi orang tua lebih baik dirinya sendiri menderita daripada anaknya yang tersakiti.
Hal ini serupa dengan kisah sang penjaga kereta. Pada zaman dahulu ada seorang penjaga jembatan tempat kereta lewat.
Tugasnya adalah saat kereta datang, jembatan perlu diturunkan agar kereta dapat menyeberang sungai. Sedangkan saat tidak ada kereta, jembatan perlu naik agar kapal bisa lewat.

Suatu saat ada telepon darurat. Bahwa ada kereta penting berisi orang pemerintah yang akan lewat dengan kecepatan tinggi. Kereta ini di luar jadwal kedatangan kereta pada umumnya.
Sang penjaga rel berada dalam dilema besar. Jika ia menurunkan jembatan maka anaknya akan mati. Karena sedang bermain di bawah jembatan.
Namun jika ia tidak melakukannya maka terjadi kecelakaan besar. Hal ini akan menewaskan banyak orang penting pemerintah.
Dengan sangat berat hati sang penjaga rel mengambil tindakan. Ia mengorbankan anaknya untuk keselamatan banyak orang.
Kisah ini tentu sangat mengharukan orang yang mendengarnya. Karena memperlihatkan pengorbanan besar seorang ayah.
Demikianlah pengorbanan Nabi Ibrahim sangat berat. Namun memang ada batas pengorbanannya.
Pengorbanan Nabi Ibrahim Tidak Cukup?
Nabi Ibrahim sadar bahwa pengorbanannya, walau mulia, tidak cukup untuk menjadikan dia layak untuk masuk surga. Ia masih harus meminta ampunan kepada Allah atas dosanya.
“Dan Yang amat kuinginkan (Ibrahim) akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (Al-Quran 26:82)
Hal ini tentu sangat mengejutkan. Karena jika Nabi Ibrahim tidak tahu nasibnya. Bagaimana dengan kita?
Ibadah dan pengorbanan kita tidak mungkin menyamai pengorbanan Nabi Ibrahim. Terlebih lagi kita pasti memiliki banyak dosa.
Dalil agama mengajarkan ibadah manusia sangat terbatas. Tidak ada yang mampu menjamin akhirat.
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya . . .” (Qs 22:37).
Tidak ada pengorbanan kita yang mencapai keridhaan Allah. Masalahnya, tentu kita tidak mungkin takwa dengan sempurna.
Kadang kita takwa, namun sering khilaf. Kadang kita beramal, namun banyak juga dosa selama hidup. Jika demikian, bagaimana kita mendapat keridhaan Allah?
Pengorbanan Nabi Besar
Ada satu nabi lain yang juga melakukan banyak pengorbanan. Ialah Isa Al-Masih.
Kitab Injil menceritakan kehidupan Isa dengan baik. Dimana banyak sekali pengorbanan yang Ia lakukan.
Misalnya, Isa terlahir di kandang hewan (atau palungan) (Injil, Lukas 2:7).
Selanjutnya selama hidup Isa membawa kebenaran Allah walau dengan penderitaan. Kadang ia bahkan tidak mendapat tempat untuk tidur (Injil, Matius 8:20).
Isa juga mengalami banyak penolakan dan aniaya. Pada puncaknya Ia ditangkap dan mendapat siksaan berat.
Kemudian Isa mendapat hukuman untuk mati tersalib. Ini adalah hukuman paling menderita dan paling hina untuk orang pada zaman itu.
“. . . Isa disesah dan diserahkannya untuk disalibkan . . . Kemudian, mereka menganyam sebuah mahkota dari duri dan memasangkannya di kepala Isa . . .” (Injil, Matius 27:26, 29).
Bedanya pengorbanan Isa dengan pengorbanan Nabi Ibrahim adalah keridhaan Allah. Karena pengorbanan Isa mampu menjamin keridhaan Allah.
Jalan Mendapat Keridhaan Allah

Namun Isa Al-Masih berbeda. Pada hakekatnya Isa adalah Allah yang menjelma menjadi manusia.
Isa lahir dari rahim seorang perawan. Isa adalah perwujudan Kalimatullah. Dan Ia adalah suci, manusia tidak berdosa (Qs 19:19).
Karena itu pengorbanan Isa sangat istimewa. Pengorbanan pribadi tanpa dosa, mampu menanggung dosa manusia. Melalui-Nya kita mendapat ampunan Allah.
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, . . . dia [Isa Al-Masih] tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita [saat tersalib]. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita [jaminan pengampunan Allah] . . .” (Taurat, Yesaya 53:4-5).
Inilah solusi Allah menolong manusia berdosa. Melalui Isa kita akan mendapat keridhaan Allah.
Pengorbanan untuk Keselamatan Manusia
Pengorbanan Nabi Ibrahim tetap terbatas. Namun pengorbanan Allah dalam Isa Al-Masih bermanfaat untuk keselamatan manusia.
Kita pasti mendapat keridhaan Allah melalui Isa Al-Masih. Caranya dengan mengimani dan menjadi pengikut-Nya.
“Di dalam Al-Masih, kita memperoleh tebusan melalui darah-Nya, yaitu pengampunan atas pelanggaran-pelanggaran kita, sesuai dengan kekayaan anugerah-Nya” (Injil, Surat Efesus 1:7).
Maukah Anda mendapat keridhaan-Nya dan jaminan surga akhirat? Mari mengimani Isa sekarang!
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Adakah Kurban Lebih Mulia dari Pengorbanan Nabi Ibrahim?” Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
- Maksud Dari Hari Raya Qurban Idul Adha
- Tujuan Idul Adha, Anak Ibrahim Ditebus Dan Keselamatan
- Orang Muslim Mengorbankan Diri Untuk Menyelamatkan Orang Kristen
- Teka Teki Keadilan Dan Rahmat Allah
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Setelah membaca artikel ini, pengorbanan mana yang termulia – Ibrahim, Nabi Islam, atau Isa Al-Masih? Mengapa?
- Menurut Saudara, mengapa umat Islam merayakan pengorbanan Ibrahim, tapi tidak merayakan pengorbanan Nabi Islam atau Isa?
- Bagaimana pengorbanan Isa dapat mengampuni dosa manusia? Apakah Saudara ingin pengampunan itu?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau SMS/WA ke: 0812-9530-4930


PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .