
Bila ayah saja berharap cinta kasih yang tulus dari anaknya, terlebih lagi Allah, bukan? Bagaimana bila umat beragama mendapat paksaan untuk beribadah? Apakah ibadah karena terpaksa berkenan kepada Allah?
Terpaksa Beribadah Karena Syariah
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok-kelompok Islam garis keras di Indonesia telah membantu dalam memperkenalkan 400 undang-undang yang mengacu kepada hukum syariah. Mereka juga mendorong legalitas atas hukum baru yang berdasarkan hukum agama, yaitu syariah. Diantaranya, kewajiban menggunakan hijab bagi wanita Muslim dan non-Muslim di daerah-daerah tertentu.
Baru-baru ini Bupati Cianjur mengeluarkan satu aturan baru. Isinya, mewajibkan pegawai pemerintah menggunakan alat pemindai jari di sebuah masjid. Tujuannya, untuk menandakan kehadiran mereka pada shalat subuh. Aturan ini dianggap sebagai hukum yang memaksa orang beribadah.
Ide ini cukup baik jika dilakukan dengan tulus. Tapi, bagaimana bila mereka shalat karena takut kepada Bupati dan merasa terpaksa untuk beribadah? Mungkin agar mendapat pujian dari Bupati, agar naik pangkat, atau supaya terlihat sholeh?
Apa akibat suatu ibadah yang dipaksakan? Bila hal itu terjadi, maka tidak menutup kemungkinan aturan baru ini akan melahirkan ratusan umat beragama yang munafik, bukan? Yaitu orang-orang yang paksakan diri untuk beribadah. Apakah ibadah karena terpaksa dan bukan dengan tulus hati berkenan di hadapan Allah? Kirimkanlah tanggapan Anda lewat email.
Isa Al-Masih dan Hukum-Nya
Kitab Allah mengajarkan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Injil, Rasul Lukas 12:30). Lebih lanjut Kitab Allah berkata, “. . . barangsiapa menyembah Dia [Allah], harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Injil, Rasul Besar Yohanes 4:24).
Firman Allah ini mengajarkan agar umat-Nya mengasihi Dia dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Juga, Allah ingin agar umat-Nya menyembah Dia dengan kebenaran. Bukan dengan kepalsuan atau pura-pura ibadah karena terpaksa.
Sebab orang yang beribadah secara terpaksa atau penuh kepura-puraan, sama seperti orang munafik. Isa berkata, orang munafik “sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” (Injil, Rasul Besar Matius 23:27).
Pengorbanan Isa Al-Masih, Tulus atau Terpaksa?
Isa Al-Masih tidak pernah merasa terpaksa saat mengorbankan diri-Nya guna memberi jaminan keselamatan bagi manusia berdosa. Dengan sangat jelas Isa berkata, “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali” (Injil, Rasul Besar Yohanes 10:17-18).
Pilihan ada di tangan Anda. Apakah Anda ingin menyembah Allah dengan tulus hati, atau secara terpaksa dan pura-pura!? Jika Anda ingin tahu bagaimana mengasihi Allah dengan hati yang tulus, silakan menghubungi staff IDI lewat email ini.
[Staf Isa dan Islam – Untuk masukan atau pertanyaan mengenai artikel ini, silakan mengirim email kepada Staff Isa dan Islam.]
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel “Apakah Allah Menerima Ibadah Yang Dilakukan Karena Terpaksa?”. Berkenankah Allah pada Ibadah Demikian?” Jika Anda berminat, silahkan klik pada link-link berikut:
- 8 Kekurangan Dalam Ibadah Nasrani
- Ritual Ibadah Tertinggi Yang Diterima Allah
- Menunaikan Ibadah Haji Menghapus Semua Dosa Saya?
- Banyak Peraturan Membatalkan Puasa Ramadhan, Mampukah Menunaikannya?
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Setujukah Saudara dengan adanya paksaan untuk beribadah secara sepihak dari kelompok tertentu seperti yang dijelaskan pada artikel di atas? Jelaskan alasan Saudara!
- Apakah menurut Saudara, dengan hukum memaksa orang shalat, dapat menjamin ibadah tersebut berkenan di hadapan Allah? Jelaskan alasan Saudara!
- Menurut Saudara, ibadah yang bagaimanakah yang berkenan di hadapan Allah?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Ditulis oleh: Saodah
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau SMS/WA ke: 0812-9530-4930


Isa Al-Masih dan Hukum-Nya
PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR
Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Hanya diperbolehkan menjawab salah satu pertanyaan fokus yang terdapat di bagian akhir artikel. Komentar yang tidak berhubungan dengan salah satu pertanyaan fokus, pasti akan dihapus. Harap maklum!
Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: .